Ir. Daniel Adipranata, M.Div:
Waspadai Jebakan Demokrasi Semu

Proses demokrasi dalam sebuah negara bertujuan untuk menghasilkan pemimpin-pemimpin yang berkualitas untuk mewakili rakyat. Para pemimpin ini dipilih untuk mewakili rakyat dalam menjalankan fungsi-fungsi pemerintahan demi mencapai cita-cita bangsa (rakyat).

Jaminan Konstitusi bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat menegaskan bahwa sesungguhnya rakyat berhak menentukan secara demokratis dan bebas, berdasarkan pilihan mandiri, siapa saja yang akan memimpin daerah dan negaranya. Ini merupakan salah satu wujud demokrasi, yang menempatkan warganegara dalam kedudukan yang bermartabat.

Akan tetapi, pengalaman tiga Pemilu terakhir menunjukkan betapa seringkali pemilih kecewa dengan calon yang dipilih karena ternyata setelah dipilih, pelaksanaannya tidak sesuai dengan janji-janji kampanye. Mereka hanya memanipulasi demokrasi untuk memenuhi hasrat kekuasaan. Media seperti koran, televisi, dan radio, digunakan untuk memoles citra mereka sebagai pemimpin yang seolah-olah melayani kepentingan rakyat, berpihak kepada rakyat, peduli kepada kaum tersisih, dll. Dalam rangka meraih suara yang banyak , mereka juga tidak segan berlaku seperti dermawan dengan membagi-bagikan uang dalam jumlah menakjubkan untuk menarik simpati rakyat. Padahal, penghasilan sebagai pejabat pemerintahan tidak akan sebanding dengan pengeluaran yang amat besar ini. Tidak heran jika setelah berkuasa, korupsi menjadi jalan pintas untuk mengembalikan modal, bahkan menarik keuntungan berlipat.

Hal inilah yang dikenal sebagai “jebakan demokrasi”. Demokrasi tidak kunjung menghasilkan pemimpin berkualitas, melainkan hanya sekedar pemimpin populer. Demokrasi hanya digunakan sebagai alat untuk meraih kekuasaan bermodalkan uang dan popularitas. Demokrasi menjadi hanya proses rutin nan semu. Cita-cita negara yang tercantum dalam Pembukaan UUD 1945 pun semakin jauh dari kenyataan.

Jebakan demokrasi juga memiliki sifat yang berulang. Para pemimpin semu yang dihasilkan akan berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan segala cara, termasuk dengan memperalat demokrasi. Rakyat yang miskin karena anggaran negara atau daerah dikorupsi akan menjadi sasaran empuk mobilisasi demokrasi dengan menggunakan uang, popularitas, dan sentimen agama.

Rakyat pun semakin pesimis dengan proses demokrasi, karena merasa siapapun yang menjadi pemimpin atau wakilnya, nasib mereka tidak akan berubah. Menurunnya tingkat kepercayaan publik ini menyebabkan kembali terulangnya politik uang dan angka Golput yang tinggi. Ketika politik uang terjadi, dapat dipastikan bahwa pemimpin yang lahir dari proses demokrasi berbiaya tinggi itu akan berusaha mengembalikan “modal” kampanye dengan cara korupsi.

Pemilu untuk memilih anggota DPD, DPR, dan Presiden-Wakil Presiden akan dilangsungkan tahun ini. Kesalahan memilih pemimpin di masa lalu jangan sampai terulang lagi. Saatnya kita memilih pemimpin yang berkualitas bagi kesejahteraan negeri. Bagaimana caranya? Lihat latar belakang dan rekam jejaknya (track-record) melalui sikap, pernyataan, tulisan, dan hubungan di masyarakat. Semuanya dapat diperoleh melalui suratkabar, televisi, radio, atau diskusi langsung dengan mereka. Pilihlah pemimpin berdasarkan bukti masa lalunya. Jangan terkecoh oleh janji, penampilan menarik, kemurahan hati lewat pemberian uang atau sumbangan dalam bentuk apapun, tetapi perhatikanlah karakter dan moralitasnya.

Tuhan Yesus mengajarkan dengan jelas cara dan kualitas kepemimpinan yang seharusnya kita pilih. “Kamu tahu, bahwa mereka yang disebut pemerintah bangsa-bangsa memerintah rakyatnya dengan tangan besi, dan pembesar-pembesarnya menjalankan kuasanya dengan keras atas mereka. Tidaklah demikian di antara kamu. Barangsiapa ingin menjadi besar di antara kamu, hendaklah ia menjadi pelayanmu, dan barangsiapa ingin menjadi yang terkemuka di antara kamu, hendaklah ia menjadi hamba untuk semuanya. Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang” (Markus 10:42-45).

Ada tiga prinsip penting yang Tuhan Yesus ajarkan tentang kepemimpinan publik. Pertama, kita harus memilih pemimpin yang bermoral dan etis untuk mencapai tujuan kepemimpinannya. Pemimpin itu tidak menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan. Dalam bagian ini, Tuhan memberikan contoh perbandingan dengan cara kepemimpinan secara umum, yang memerintah rakyatnya dengan tangan besi, atau menjalankan kekuasaan dengan otoriter (keras). Tidak demikian dengan pemimpin yang lahir dan mencintai rakyatnya. Seorang pemimpin sejati mendengar suara rakyatnya dan berjuang untuk melayani rakyat, bukan mengorbankan rakyat demi memenuhi hasrat kekuasaan dan keserakahannya.

Kedua, pemimpin yang memiliki kualitas karakter yang melayani. Saat ini, ada banyak orang yang ingin memimpin dan berambisi menjadi pemimpin rakyat. Mereka merasa mampu untuk mewakili atau memperjuangkan aspirasi rakyat, namun tanpa rekam jejak pelayanan kepada masyarakat yang jelas. Orang-orang seperti itu mungkin perlu menyimak video klip gubahan Eka Gustiwana dari show Dedy Corbuzier, “Ngaca Dulu Deh”. Lalu, kita perlu bertanya juga, apa yang menjadi motivasinya, apakah uang, kekuasaan, kepopuleran, atau kepentingan rakyat. Tuhan Yesus menegaskan, barangsiapa ingin menjadi besar, ia harus menjadi pelayan. Barangsiapa ingin menjadi terkemuka, ia harus menjadi hamba untuk semua orang. Semua ini berkaitan dengan rekam jejaknya. Bukan menjadi pemimpin dulu baru melayani, tetapi justru sebaliknya.

Yang terakhir, Tuhan Yesus menegaskan tentang siapa sebenarnya seorang pemimpin itu. Pemimpin adalah hamba untuk semua orang. Ini suatu pernyataan luar biasa tentang kepemimpinan. Oswald Sanders pernah berkata “True greatness, true leadership, is achieved not by reducing men to one’s service but in giving oneself in selfless service to them.” Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan kepemimpinan seorang hamba yang rela menderita. Saat ini, yang terjadi di Indonesia justru kebalikannya. Para calon itu hanya mau bersusah payah ketika berebut kursi, tetapi saat duduk di kursi, jarang sekali yang siap menderita, yang mau melayani kepentingan rakyat banyak.

Menjelang momen Pemilu 2014 ini, mari kita mulai proses mendoakan disertai dengan mengamati rekam jejak dari para calon pemimpin kita. Jadikan Pemilu 2014, menjadi Pemilu yang menghasilkan pemimpin sejati. Pemimpin yang melayani.

——-
*Penulis adalah mantan Sekjen Perkantas, Dir. Pelatihan Institut Leimena
**Diterbitkan dalam Majalah Dia Edisi 3 Tahun 2013

Leave a Reply