Martin Setiabudi:
Pendidikan Sex, Perlukah?  

Penulis menduga akan ada tiga jawaban bila pertanyaan ini diakukan kepada responden yang meliputi berbagai kalangan. Kelompok pertama: mereka yang menjawab “perlu”. Kelompok kedua: mereka yang menjawab “tidak perlu”. Dan kelompok ketiga: mereka menjawab “netral”.

Penulis yakin sebagian responden akan tergolong dalam kelompok pertama, walaupun mereka belum tentu memahami apa yang ,ereka maksud dengan “perlu”. Sebaliknya kelompok kedua adalah mereka yang tergolong “kuni” atau yang telah ketinggalan zaman. Mereka inilah yang sering masih memandang seks sebagai sesuatu yang kotor, tabu dan m,enjujukkan dan bahkan termasuk dosa bila ada usaha-usaha untuk memperbincangkannya. Kelompok ketiga termasuk mereka yang bersika hati-hati dan sering condong arah pesimistis, karena lebih menitikberatkan pandangan mereka pada segi-segi negatif dari pendidikan seks. Mereka kuatir bahwa setelah anak-anak muda lebih memahami masalah akan lebih “berani” bermain-main dengan seks.

Dari pengalaman bertahun-tahun dalam memberi ceramah dalam bidang seks di kalangan remaja gereja, bimbingan pra-nikah bagi pasangan yang siap diteguhkan pernikahannya serta pengalaman sehari-hari dalam menghadapi pasien yang terlibat dalam masalah-masalah seks, penulis berpendapat bahwa pendidikan seks amatlah perlu! Dalam proses pendidikan seks yang ditinjau dari sudut pandang kristiani ada tiga unsur utama yang perlu diperhatika:

1. pendidikan

Pendidikan seharusnya seorang yang mempunyai dasar imian yang mantap, mengutamakan Alkitab diatas segala sesuatu yang akan disampaikan dan selalu berusaha mengintegrasikan firman Allah ke dalam kehidupannya sehari-hari, sanggup mengkomunikasikan bahwa seks didisain oleh Allah sendiri dan sesuai dengan rencananya (Kej 1:27,28 &31) dan bahwa seks ada;ah wajar untuk dinikmati dan indah dalam pernikahan (Amsal 5:18-19; Kej 26:8; Kid Agung 4:9-11).

2. Materi

Bahan pelajaran yang akan disampaikan harus sesuai tingkat integrasi dan golongan umur yang akan menerimanya. Disampaikan dengan gamblang apa adanya tanpa diberikan bumbu-bumbu yang dapat menimbulkan kesan berbau pornografi.

3. Objek

Pendidikan seks seharusnya diberikan secara berkesinambungan, berlaku untuk semua kelompok umur. Biasanya mereka dibagi-bagi dalam beberapa kelompok umur sebagai berikut. Pertama, Balita. Mereka yang berumur dibawah 5 tahun. Kedua, umur 5 sampai usia remaja. Ketiga, kalangan remaja. Keempat, kalangan pemdua. Kelima, pra-nikah yaitu mereka yang sudah siap untuk diteguhkan pernikahannya. Keenam, pasangan suami-istri. Ketujuh, seks dikalangan suami istri usia lanjut (post menopause).

            Seperti dijelaskan diatas, materi yang ajan dibicarakan dalam pendidikan seks dengan sendirinya haruslah disesuaikan dengan masing-masing kelompok umum tersebut.

Para penulis menambahkan bahwa dari kelompok-kelompok umur tersebut diatas yang paling penting untuk mendapatkan perhatian khusus adalah kelompok remaja dan pemuda. Pada pertumbuhannya kelompok ini mengalami perubahan fisik/jasmani yang paling cepat, sehingga bila tidak diikuti dengan pertumbuhan mental dan spiritual yang seimbang akan menimbulkan keadaan yang labil dan mudah dipengaruhi oleh lingkungannya. Di sinilah pentingnya pendidikan seks diberikan secara intensif dan benar, sehingga para remaja dan pemuda kita menjadi insan-insan yang tangguh, yang tidak mudah dipengaruhi oleh hal-hal negatif dari lingkungannya dan akan menjadi saksi-saksi Kristus yang handal.

Pada para remaja dan pemuda perlu dijelaskan perubahan-perubahan fisik yang wajar dan alamian yang terjadi atas dirinya, sehingga dapat memahami dengan baik. Ternyata proses menstruasi pertama yang dialami oleh remaja outri dapat mengakibatkan terjadinya kegoncangan jiwa hanya karena kekurangan pengertiannya tentang proses alamiah yang terjadi atas dirinya; para remaja pria juga ada yang mengalami gangguan mental akibat terjadinya pulotion (mimpi basah) untuk pertama kalinya. Tetapi para pulotion seringkali disertai rasa nikmat, banyak remaja pria yang “nakal” berusah mengulanginnya dengan memanipulasi alat kelaminnya. Ini mengakibatkan mereka jatuh dalam kebiasaan masturbasi tanpa dapat melepaskan dirinya dari kebiasaan tersebut dengan akibat timbulnya komplikasi perasaan rendah diri.

Dengan demikian jelaslah bahwa pendidikan seks adalah sangat perlu diberikan terutama pada usia remaja dan pemuda, karena perubahanalamiah biasa yang terjadi atas dirinya bisa menimbulkan masalah bahwa karena buta pengertian tentang seks.

Masalah seks menjadi lebih rumit bila para remaja dan pemuda tersebut melakukan hubungan seks pra-nikah dengan pacarnya yang bisa terjadi diluar kesadarannya karena melakukan sex manipulation. Apalagi bila melakukan hubungan seks dengan wanitu tuna susila, akibatnya mereka kemungkinan tertular penyakit kelamin yang kadang-kadang tidak dapat diobati. Pengetahuan umum tentang penyakit kelamin termasuk dalam satu paket pada pendidikan seks.

Melihat alasan-alasan diatas, tentu kita sependapat bahwa pendidikan seks secara kristiani perlu diberikan.

Semoga Tuhan Yesus memberkati usaha kita bersama dalam bidang pendidikan seks

 

 **Dituliskan oleh Martin Setiabudi, dokter yang mengajar di Univ.Airlangga dan berbagai perguruan swasta di Surabaya seta ketua DPD PIKI Jawa Timur.

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini