Pdt. Lucy Toisutta:
“Meneladani Sang Gembala”

Meski banyak orang yang ingin menjadi pemimpin, sesungguhnya kepemimpinan bukanlah sesuatu yang mudah. Memimpin sekumpulan manusia dengan berbagai latar belakang dan kepentingan, sekalipun demi mencapai visi bersama, membutuhkan energi dan strategi tersendiri. Dalam edisi kali ini, Majalah Dia (MD) berkesempatan mewawancarai Pdt. Lucya E. Toisutta – P, S.Th (LT). Beliau saat ini menggembalakan jemaat GPIB Maranatha Jakarta. Berikut petikan wawancara dengan beliau mengenai kepemimpinan di masa kini:
MD: Isu kepemimpinan memang umum, hanya saja, setiap zaman pasti punya tantangan tersendiri. Bagaimana Ibu memaknai kepemimpinan itu sendiri?

LT: Kepemimpinan memang telah menjadi sesuatu yang telah umum. Kalau bicara kepemimpinan, pasti ada yang dipimpin, dan ada pula yang memimpin. Bagi saya, kepemimpinan adalah dari dua pihak ini, bagaimana mereka dapat melaksanakan tugas dan tanggung jawab sebagaimana seharusnya.

MD: Jadi kepemimpinan tidak hanya mencakup satu orang yang di depan, tetapi juga orang-orang yang di belakangnya?

LT: Ya, dua pihak. Mereka harus saling mendukung untuk melaksanakan tanggung jawab yang dipercayakan.

MD: Sudah berapa lama Ibu melayani sebagai gembala jemaat?

LT: Saya melayani, kalau dihitung dari masa Vicariat tahun 1989, berarti sekitar 24 menjelang 25 tahun. Dan itu di beberapa tempat. Di GPIB dengan sistem mutasi, dengan masa vikariat itu sekitar tujuh tempat. Umumnya sekitar empat tahun, lalu pindah lagi.

MD: Sempat melayani di mana saja?

LT: Masa vikariat di Bandung, kemudian ditempatkan di Bekasi, lalu ke Palembang, kemudian ke Jawa Timur, ke Bali, ke Jawa Timur lagi, dan sekarang di Jakarta.

MD: Dari pengalaman melayani berbagai tempat itu, adakah strategi khusus untuk menggembalakan jemaat dengan berbagai karakter?

LT: Tiap tempat pasti ada hal baru, tapi itulah tantangan kita sebagai seorang pemimpin. Kita harus tetap siap menyelesaikan tanggung jawab itu, di manapun ditempatkan. Bagaimanapun kondisi yang ada, ya harus tetap siap. Yang paling pokok, kalau ada jemaat yang bergantung kepada kita sebagai pemimpin, kepada siapa kita harus bergantung? Tidak lain kepada Pemimpin Utama kita, Yesus Kristus.
Yang menjadi dasar pijakan saya dalam kepemimpinan ini ada di dalam kitab Yohanes, “Akulah Gembala yang Baik. Gembala yang baik memberikan nyawa-Nya untuk domba-domba-Nya.” Artinya, di situ ada pengorbanan, dan teladan kita dalam hal pengorbanan adalah Kristus.
Memang, ada banyak hal yang kita alami, tetapi ketika kita menghayati kembali bagian ini, kita menyadari bahwa pengorbanan kita sebenarnya belum seberapanya dari pengorbanan Kristus. Jadi, strategi saya adalah berteladan kepada Yesus.

MD: Di dalam gereja biasanya ada yang bertentangan satu sama lain, dan biasanya pemimpin menjadi “rebutan.” Bagaimana Ibu menghadapi hal seperti itu?

LT: Menurut saya, itu bagaimana kita menempatkan diri dengan berbagai kalangan. Yang dihadapi di gereja ini, misalnya, usianya dari balita sampai lansia. Tinggal bagaimana kita membawa diri. Dan memang di sini kita dituntut menjadi pemimpin yang bijak. Misalnya kepada anak-anak, bagaimana kita harus bersikap atau bertindak, demikian juga kepada yang teruna, kita coba adakan pendekatan yang tepat.
Dengan demikian perlu dipikirkan bagaimana kita membekali diri juga. Kita perlu membekali diri dengan pemahaman mengenai kondisi anak-anak muda agar tahu berhadapan dengan anak muda itu bagaimana. Juga dengan orang tua. Kalau jemaatnya sepantaran dengan kita, mungkin ya lurus-lurus saja, tapi bagaimana dengan anak muda? Dengan anak kecil? Sebagai contoh, saya berusaha sedemikian rupa supaya dari kecil anak-anak tahu siapa pemimpin mereka. Kita coba merangkul semua unsur.

MD: Menurut Ibu, seprti apa kondisi anak remaja-pemuda sekarang ini?

LT: Dimulai dari kepemimpinan dalam keluarga. Bagaimana orang tua mampu memberikan contoh teladan yang nyata kepada anak-anaknya. Karena kita lihat, kalau bicara generasi sekarang, ada yang mengatakan ini generasi yang cukup memprihatinkan. Memang bisa dikatakan demikian. Bisa dikatakan mencemaskan juga. Yang paling menentukan itu sebenarnya keluarga, meski kadang-kadang orang tua berpikir bahwa anak-anak terlibat dalam pelayanan itu sudah cukup. Pelayanan itu hanya pelengkap pertumbuhan, yang paling utama, ya di keluarga. Kadang itu yang dilupakan orang tua.

MD: Apa saja tantangan dalam melayani kaum muda?

LT: Ketika kerjasama yang dibangun dengan orang tua tidak terwujud dengan baik.

MD: Bagaimana memimpin generasi sekarang, yang mendengarkan khotbah 30 menit saja sudah gelisah?

LT: Zaman sekarang memang beda pergumulannya. Ibadah yang variatif perlu terus dihidupkan. Misal di sini, ibadah untuk teruna disesuaikan dengan semangat kaum muda.

MD: semisal terjadi konflik di antara jemaat, apa yang biasanya Ibu lakukan?

LT: Tentu kita tidak hanya mendengar dari satu pihak. Kita coba lakukan pendekatan personal. Kita banyak diam dan mendengar, kemudian mengkaji, barulah memberikan solusi. Bagaimana menempatkan diri sebagai orang yang bijak. Ini memang bukan sesuatu yang tidak mudah. Kadang ada konflik internal, seperti antarkategori, antarpengurus, antara anggota dengan pengurus, bahkan sampai ngambek-ngambekan. Saya selalu katakan kepada mereka, “Kita boleh marah dengan seseorang, tapi jangan sampai marah kepada Tuhan.”
Kita upayakan menyentuh setiap pribadi. Kita perlu mengerti bahwa semua orang butuh dihargai. Siapapun dia, jika dia dihargai, dia akan setia. Siapapun dia, biarpun masih anak-anak. Kita melihat setiap orang dalam keutuhannya sebagai milik Tuhan. Semua berharga di mata Tuhan. Setiap pribadi memang berharga, dan kita tempatkan sebagai milik Tuhan yang memang berharga. Kita coba rangkul semua. Memang butuh waktu yang banyak, dan memang kita harus mengenal betul-betul masing-masing pribadi.

MD: Selama 24 tahun melayani, pasti ada pengalaman disalah-mengerti oleh orang lain, termasuk jemaat. Bagaimana Ibu menanggapinya?

LT: Tiap-tiap jemaat pasti ada saja, tapi kalau sampai yang sangat parah tidak ada. Yang namanya benturan atau konflik pasti ada, tapi prinsip saya begini, “I manage my smile.” Alkitab mengatakan bahwa hati yang gembira adalah obat, bukan? Dihadapi saja dengan senyum. Hanya orang yang melakukan pelayanan itu yang jadi bulan-bulanan. Itu sudah pasti. Jadi di satu sisi, kita mensyukuri itu.

MD: Di zaman multimedia ini, banyak gempuran nilai yang tidak semuanya alkitabiah. Bagaimana kita menolong jemaat untuk bisa terus fokus pada kebenaran firman Tuhan?

LT: Kemajuan teknologi ini memang sesuatu yang tidak bisa dihindari. Kuncinya adalah bagaimana kita mampu menyikapinya dari sisi yang positif. Ini sangat menolong kita kalau memang kita tahu. Memang, serangan itu gencar sekali. Karena itu, kita topang dengan pembekalan. Kemudian kita tuangkan itu dalam program-program yang bisa menjawab tantangan yang ada.
Memang kita tak bisa menghindari kemajuan teknologi ini. Kita harus mampu mengikuti segala perubahan, tapi jangan sampai terbawa arus. Ini butuh kerja keras, bukan hanya dari pemimpin saja, tetapi juga dari yang dipimpin. Kita bicara dalam lingkungan keluarga kita sendiri, misalnya, antara suami dan istri, seringkali komunikasinya malah lewat BBM. Juga orang tua dengan anak. Sayang sekali.
Kuncinya bagaimana kemajuan ini kita manfaatkan. Memang, kalau orang mengatakan buruknya, buruknya banyak, tetapi bagusnya juga banyak. Contohnya, tahun ini dari lansia ada program belajar komputer. Mungkin terdengar lucu, tetapi mereka mau mengikuti perkembangan yang ada. Kita bersyukur dengan segala kemajuan yang ada, cuma jangan sampai terbawa arus.

MD: Ada pesan untuk para pemimpin Kristen di masa kini?

LT: Seperti yang saya katakan tadi, teladan kita adalah Yesus. Yesus pun pernah menyatakan itu, bahwa pemimpin adalah pelayan. Bagaimana menjadi pemimpin yang melayani, itu yang tidak mudah. Pemimpin yang melayani seperti apa? Yang jelas ada pengorbanan, kesetiaan, ketaatan, ketekunan, kerendahan hati. Itu kan, yang Yesus minta? Itu juga yang harus kita wujudkan.
Tujuan semua kita, siapapun, dengan jabatan apapun, tanggung jawab apapun, adalah bagaimana memuliakan Tuhan dan bagaimana menjadi berkat bagi orang lain. Memang inilah tujuan kita semua. Sama seperti garam dan terang, itu intinya. Dengan semua pekerjaan dan tanggung jawab yang diberikan, pasti harus ke sana arahnya. Itu tugas yang diberikan kepada kita, sampai ke hal sekecil apapun. (ays)

 

* Penulis adalah Pdt. Lucy Toisutta

**Diterbikan dalam majalah Dia edisi III tahun 2013

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini