Stefanus Subagio:
Etika Protestan

Salah satu bidang kajian agama adalah keberagamaan (religiusitas) jemaat. Dlihat dari dimensi konsekuensial atau dimensi sosialnya, keberagamaan pakan implikasi sosial dari pelaksanaan ajaran agama. Kekristenan mau tidak mau juga memberikan pengaruh terhadap etos kerja, hubungan interpersonal, hubungan dengan pemerinah dan sebagainya pada orang Kristen. Ialu bagaimana halnya dengan orang-orang Kristen yang lahir dalam situasi Reformasi Protestan?

Etika protestan Weber

Max Weber pada tahun 1904 berpendapat orang, protestan mempunyai “need for achlevement”  (kebutuhan akan prestasi/motif berprestasi) yang  lebih tinggi dari orang-orang Katolik.

Menurut Weber, pembaharu protestan misalnya John Calvin dan Martin Luther banyak memberikan kebebasan individu. Keadaan inilah yang akhirnya melahirkan kapitalisme industri modem di Eropa.

Dari beberapa penelitian Weber ditemukan, bahwa orang-orang Protestan bekerja lebih keras, lama dan lebih berhasil dalam usahanya dibanding rekannya orang-orang Katolik. Keadaan ini dipengaruhi oleh ajaran agama (ke-protestanan) terhadap etos kerja seseorang.

Aliran protestan pertama-tama mengatakan bahwa seorang manusia bertanggung jawab melaksanakan sebaik-baiknya peranan apa saja yang diberikan Tuhan dalam hidupnya. Kedua, kaum Protestan yakin bahwa mereka adalah umat pilihan Allah yang akan masuk ke surga.

Kondisi ini mengakibatkan mereka sangat konsisten terhadap tugas duniawi, sehingga bekerja lebih keras dan tidak menikmati hasil kerja secara pribadi.

Dua faktor di ataslah yang rnempengaruhi etos kerja orang-orang Protestan sehingga mereka lebih mempunyai motif berprestasi yang tinggi dibandingkan orang-orang Katolik.

Etika Protestan Weber secara realita juga banyak didukung oleh ke-Protestanan itu sendiri. Seperti yang dikatakan Martin Luther, seseorang tidak harus tergantung pada gereja atau pendeta tetapi harus membaca sendiri Kitab Suci dan meminta petunjuk langsung dari Tuhan. Keadaan ini oleh Winterbottom disimpulkan sebagi keahlian membaca sehingga merupakan kebiasaan. Selanjutnya keadaan ini akan meningkatkan motif berprestasi, khususnya pada anak-anak Protestan.

Berbeda dengan gagasan Calvin, la berpendapat, seluruh yang ada di dunia ini telah diberikan Tuhan pada manusia agar dipelihara. Pada suatu saat manusia harus mempertanggungjawabkannya pada Tuhan. Jadi kaum Protestan lebih banyak mendasarkan kerjanya sebagai “untuk Tuhan” atau “untuk kemuliaan Tuhan”.

Etika Ilahi

Diihat dalam terang Firman Allah, Etika Protestan Max Weber harus kita Pandang sebagi hasil penelitian dan analisa ilmu pengetahuan. Artinya bukan didasarkan pada kebenaran Firman Allah. Maka, Etika Protestan harus dipandang secara obyekti. Bagi kaum Protestan, apa yang dikatakan Weber adalah Positif. Namun hal ini tidak berarti suatu pandangan yang lebih rendah terhadap kaum Katolik.

Kedua, walaupun memang membawa pengaruh yang positif, pada etos kerja Penganutnya hal ini akan membawa dari sudut pandang: Apakah Pengaruh tersebut disebabkan tradisi protestan. Dan, apakah pengaruh tersebut memang tuntutan dan bukti kebenaran Firman Allah. Di sini akan diuraikan bahwa ada Etika Ilahi yang berlaku terhadap etos kerja orang Kristen (Protestan dan Katolik).

Terlepas dari penemuan Weber, Alkitab mengajarkan, setelah jatuh ke dalam dosa, manusia akan berpeluh dan bersusah payah mencari rejeki dan makanannya (Kej. 3 : 17, l9). Namun setelah kedatang Yesus Kristus, la memiliki otoritas untuk meniadakan kutuk hukum Taurat atas dosa bagi semua yang percaya dan tinggal didalam Dia (Roma 8 : 1). Dengan demikian Ia pun memberikan jaminan pemeliharaan terhadap manusia dalam mencari makanan atau rejeki (kerja). Alkitab mengajarkan bahwa Allah akan memenuhi segala keperluan kita menunrut kekayaan dan kemuliaanNya dalam Kristus Yesus (FiliPi 4 : l9). Sehingga tepatlah apa yang dikatakan Tuhan Yesus. Ia datang agar kita memilki hidup dan mempunyainya (kehidupan tersebut) dalam segala kelimpalan (Yohanes 10:10b)

Ini tidak berarti bahwa Etika Ilahi mengajarkan tentang teologi sukses saja. Bagaimanapun kehendak bebas Allah merupakan keputusan terakhir, atau tidak. Maka seseorang harus memiliki komitmen yang penuh terhadap janji-janji kesuksesan yang dikatakan Allah.

Namun kita tidak berhak membatasi sedikitpun kehendak bebas Allah dalam menggenapi janji-janjiNya. Karena, kita sering tidak memahami rencana-rencanaNya. Bahkan kemanusiaan kita sering membatasi pemahaman kita terhadap arti penggenapan janjiNya.

Kembali kepada Etika Ilahi mengenai etos kerja. Kita lihat bahwa kehidupan (pekerjaan) Tuhan Yesus (ketika masih di dunia) selalu berpusatkan pada kehendak BapaNya. Tuhan Yesus berkata kepada Bapa: Jadilah kehendak-Mu. Di bagian lain Tuhan Yesus tidak menuruti kehendak-Nya sendiri melainkan menuruti kehendak yang mengutus -Nya, yakni Bapa. (Matius 26 : 42; Yohanes 5:30). Implikasinya adalah bahwa pekerjaan manusia harus berpusatkan pada Yesus dan kehendak-Nya. Sehingga semua kita kerjakan seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Sebab segala sesuatu adalah dari Dia dan oleh Dia dan kepada Dia. Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya (Roma 11:36).

Kesimpulan

Etika Protestan Max Weber harus dipandang sebagai hasil penelitian ilmu Pengetahuan. Terlepas dari hasil penelitian itu orang Kristen harus lebih memegang kebenaran Firman Allah mengenai sukses kerja. Oleh karena itu kita perlu mengikusertakan Tuhan dalam setiap perencanaan mencapai kerja (Yakobus 4 : 5). Mulai dari motif-motif yang bersifat mendasar hingga berwujud perilaku.

Dengan demikian jika orang Kristen memiliki motif berprestasi dan sukses ia tidak bisa mengklaim bahwa itu karena keprotestanan. Allah tidak membeda-bedakan kaumNya. Untuk itulah kita perlu mengoreksi dan mewujudkan etos kerja menurut kebenaran Firman Allah.

 

*Penulis adalah anggota PMK Semarang.

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *