Eunike Apostelina:
“Pokemon Go”, Kewajaran yang Menghebohkan

Istilah “Pokemon” tidaklah asing di telinga sebagian kita, apalagi yang masa kecilnya di tahun 1990-an. Pokemon merupakan judul film kartun dari Jepang yang cukup digandrungi pada masa itu. Wikipedia menuliskan, bahwa aslinya serial ini hanya memiliki satu judul saja, yaitu Pokémon, namun setelah franchise Pokémon diperluas dan diperlebar jalan ceritanya, dibuatlah dua serial lagi yang berjudul “Pokémon: Advanced Generation dan “Pokémon Diamond & Pearl,” dimana kedua serial tadi masih ada kaitannya satu sama yang lain dengan versi orisinalnya.

Satu versi lagi, yaitu Pokémon Chronicles, atau dikenal di Jepang dengan nama Pokémon Sunday (Shūkan Pokémon Hōsōkyoku), adalah sebuah serial dengan cerita tentang beberapa karakter tambahan yang biasa muncul dalam serial Pokémon yang utama, dan juga highlights dan preview tentang episode Pokémon berikutnya. Banyak anak dan remaja sangat berminat terhadap anime ini, yang begitu menarik perhatian dengan karakter-karakter lucu dalam cerita—meskipun memakai istilah “monster.”

Ketertarikan dan minat yang cukup besar terhadap Pokemon tidak terjadi pada masa 1990-an saja, melainkan bahkan hingga masa kini, tentu dengan kemasan yang berbeda. Kompas.com pada tanggal 9 Juli 2016 lalu menuliskan bahwa kemuncula Pokemon dunia game, khususnya di smartphone, terasa begitu menghebohkan. Para pemain berlomba-lomba berlari keluar rumah, lalu bepergian ke lokasi tertentu dan menangkap monster-monster Pokemon. Ya, dunia saat ini sedang keranjingan sebuah game baru, yakni Pokemon Go, sebuah game berbasis augmented-reality yang dikembangkan oleh The Pokemon Company bekerja sama dengan Nintendo dan Niantic.

Sebetulnya, game Pokemon sudah ada semenjak tahun 1996, bersamaan dengan popularitas serial kartunnya. Cara bermainnya pun tidak jauh berbeda dari Pokemon Go. Pokemon versi pertama diluncurkan pada tahun 1996 dengan 151 jenis Pokemon. Lantas, apakah yang membuat permainan ini begitu menghebohkan sekarang ini? Apakah beda zaman, beda pula cara menanggapi?

Fenomena “Pokemon Go” di Indonesia

Pokemon Go mewajibkan para pemainnya untuk mencari monster-monster Pokemon di berbagai lokasi, melatihnya, kemudian mengikutkannya dalam pertarungan-pertarungan antarmonster dengan para pemain lain. Permainan ini mempertemukan seorang pemain dengan sesama pemain lainnya. Menurut kesaksian seorang adik rohani, permainan ini tidak membuat seseorang menjadi antisosial, tetapi justru semakin mau keluar dari “sarang” atau sekedar meringkuk di kamar. Permainan ini pun mengasah seseorang menjadi kreatif, terhibur, tertantang, dan banyak bergerak. Dampak yang cukup positif, bukan?

Permainan Pokemon Go tidak mengenal usia dan jenis kelamin. Anak-anak, remaja, pemuda, dewasa, perempuan, dan laki-laki, semua menyukai permainan ini. Bahkan ketika saya berada di dapur sebuah asrama bersama tiga orang ibu dan satu orang bapak petugas masak dan kebersihan, mereka pun membicarakan Pokemon. “Sudah tangkap berapa Pokemon, Pak, hari ini?” tanya salah seorang ibu. “Sudah, satu saja tadi dekat mobil” jawab Si Bapak. Percakapan mereka pun berlanjut mengenai permainan itu.

Jujur saja, saya terkesima dengan kehebohan permainan ini. Monumen Nasional pun ramai dikunjungi oleh mereka yang berburu Pokemon. Tempat kuliner juga dalam promosinya menghadirkan “Pokestop,” dimana pelanggan dapat berburu Pokemon. Kreatif. Mereka yang bermain mungkin tadinya tidak kenal satu sama lain, namun karena permainan ini, mereka bisa saling kenal. Selain keseruan berburu monster, permainan ini juga menawarkan pertemanan dan persahabatan antar-gamer. Menakjubkan.

Pro-kontra “Pokemon Go”

Teknologi semacam Pokemon Go ini memang membawa dampak yang positif. Mereka yang biasanya hanya duduk diam ketika memainkan game di smartphone, ketika memainkan Pokemon Go, mereka harus pergi, keluar rumah, berjalan, mencari tempat baru, bertemu dengan orang baru dan lainnya yang terkait dengan kebutuhan manusia sebagai makhluk sosial. Namun demikian, perlukah kita memainkannya terus-menerus hanya karena banyak hal positif yang didapat?

Dari sudut pandang yang lain, tidak sedikit yang menanggapi fenomena Pokemon Go dengan larangan. Ada juga yang menuliskan bahwa “Pokemon” berarti “Aku Yahudi,” sehingga membuat orang-orang menjadi kebingungan dan menolak permainan ini atas dasar agama. Permainan ini dapat berdampak negatif apabila digunakan secara berlebihan. Kak Seto mengemukakan pendapatnya terkait hal ini. Beliau mengatakan, “Kalau sudah berlebihan dan tidak kenal waktu, tidak seimbang dengan aktivitas lain, lupa belajar, ibadah, kegiatan keluarga di rumah, itu juga bahaya.” Permainan ini memang memiliki dampak positif, namun juga membawa dampak negatif apabila dimainkan berlebihan.

Seorang pendeta mengatakan, bahwa para pemain Pokemon Go (disebut Pokeman) menghabiskan waktu hampir 24 jam mencari monster, tetapi dua jam saja mencari Tuhan dalam saat teduh sudah membuat mereka kelelahan. Datang ke gereja pun dengan semangat untuk berburu Pokemon. Kemudian ramai-ramai para Pokeman mengarahkan smartphone ke tengah mimbar hanya untuk melihat apakah ada Pokemon di sana. Bukan menikmati ibadah dan kehadiran Tuhan dengan sungguh-sungguh. Betapa kondisi yang begitu menyedihkan atas tanggapan yang tidak wajar terhadap hal yang menghebohkan. Ada juga mereka yang rela menguras koceknya membeli smartphone baru yang mumpuni menjalankan game ini. Pasti harganya tidak bisa dikatakan murah.

Tanggapi sewajarnya saja

Perlu bagi kita untuk meresponi fenomena Pokemon Go ini dengan sewajarnya, karena seringkali kita dihebohkan oleh hal-hal tertentu, sehingga menyebabkan kita bertindak di luar rasio.

Contoh kecil, beberapa waktu lalu (hingga masa kini-red) heboh dan booming sekali tentang artis Korea Selatan. Film maupun lagu-lagunya sangat disukai oleh remaja dan dewasa, laki-laki dan perempuan. Setelah heboh dengan wajah para artis yang mulus nan rupawan tersebut, akhirnya bermunculan para remaja yang menginginkan wajah demikian. Mereka tidak segan operasi plastik, dimana hal tersebut menjadi hadiah ulang tahun ke-17 di Korea Selatan. Di Indonesia, kehebohannya tidak kalah seru. Para perempuan (dan mungkin laki-laki juga) dari berbagai usia membeli kosmetik buatan Korea, a la Korea. Mereka berharap wajah mereka bisa semulus wajah Sang Idola. Promosi produk kecantikan a la Korea marak di sana-sini. Meski mahal harganya, namun dipaksakan beli dengan gaji yang tidak seberapa. Apa yang dunia fiksi sampaikan, itulah yang mereka lakukan. Tidak lagi pakai akal.

Bagaimana seharusnya tanggapan kita? Tanggapi saja secara wajar kehadiran hal-hal yang heboh tersebut. Tidak perlu berlebihan. Apabila menonton film atau memainkan game, lakukanlah sebagai hiburan. Tinggalkan jika terlalu banyak dampak negatif dari hal tersebut. Lari. Sama seperti Yusuf yang berlari menghindari ajakan Sang Nyonya (istri Potifar) untuk tidur dengannya. Jika kita cermati, hal yang membuat Pokemon Go begitu menjadi menghebohkan adalah bagaimana kita menanggapinya. Kehadiran game merupakan kewajaran di tengah-tengah kita. Belajarlah berhikmat. Pakai akal budi yang Tuhan berikan.

Hiduplah di dunia nyata

Sekarang yang perlu kita pahami bersama, Pokemon Go pun bisa membuat seseorang lupa diri akan keberadaannya di dunia nyata. Bagaimanapun juga, sebagus dan sepositif apapun, permainan Pokemon Go ini tidak nyata. Semua hanya ada dalam dunia maya, dikendalikan dan bergantung dengan sambungan internet. Jika tidak ada sambungan internet, ya tidak bisa bermain. Ini dunia yang berisi manusia, bukan monster. Permainan Pokemon Go bukanlah segala-galanya. Hiduplah di dunia nyata. Ini bukan soal kita ada di zaman apa atau seorang gamer sejati atau bukan. Bagi saya, tidak ada yang salah atas setiap permainan, termasuk Pokemon Go. Namun demikian, ada baiknya menyikapi, menanggapi, dan bermain dengan sewajarnya saja permainan yang menghebohkan ini.

Pokemon Go merupakan sebuah permainan, bukan kewajiban. Sebuah kewajaran, sekalipun menghebohkan. Akhir kata, ingatlah apa yang Paulus sampaikan kepada jemaat Korintus, “Segala sesuatu halal bagiku, tetapi bukan semuanya berguna. Segala sesuatu halal bagiku, tetapi aku tidak membiarkan diriku diperhamba oleh suatu apapun” (1 Korintus 6:12).

 

==============
Eunike Apostelina adalah Staf Perkantas Jakarta

Tinggalkan sebuah komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *