Hendy Yang:
Yesus Pun Membaca

Setelah Yesus naik ke Surga, Ia kembali menitipkan kepada Paulus untuk menulis, “Segala tulisan yang diilahmkan Allah memang bermanfaat untuk mengajar, untuk menyatakan kesalahan, untuk memperbaiki kelakuan, dan untuk mendidik orang dalam kebenaran. Dengan demikian tiap-tiap manusia kepunyaan Allah diperlengkapi untuk setiap perbuatan baik.” (2 Tim 3:16-17) Tulisan ini menunjukkan kepada kita betapa percayanya Sang Pencipta, Juru Selamat, dan Penolong kita pada kuat kuasa tulisan. Bagaimana tidak, Ia menitipkan kepentingan untuk mendidik dan menyingkapkan diri-Nya lewat bacaan. Nah, bagaimanakah tanggapan kita sendiri sebagai umat-Nya terhadap bacaan?

Satu lagi sabda Sang Teladan Agung kepada kita, umatnya, “Kamu adalah garam dan terang dunia.” (Mat 5:13-14, disingkat oleh penulis). Inilah peran yang Tuhan suruh untuk kita kerjakan: memberi dampak pada dunia. Mengubah dunia menjadi lebih baik.

Panggilan ini merupakan panggilan yang kembali Ia beri supaya kita kembali giat membaca. Mengapa? Karena peran kepada dunia harus didahului oleh pengetahuan akan dunia. Ini mengingatkan orang percaya untuk tidak membaca hanya buku yang berbau rohani saja. Namun semua buku itu punya kebenaran tersendiri dan layaklah dibaca memang perlu untuk menggarami dan menerangi dunia.

Buku yang tidak termasuk rohani, bukanlah sesuatu yang anti atau haram bagi orang percaya. Kita kembali mengingat istilah wahyu umum dan wahyu khusus. Wahyu khusus merupakan wahyu yang Tuhan singkapkan kepada orang pilihannya, sering disebut sebagai orang percaya, sedangkan wahyu umum merupakan wahyu yang dapat Tuhan berikan kepada siapa saja. Wahyu umum ini dapat berupa pengetahuan tentang alam, manusia, dsb. Karena itu, dalam wahyu ini, juga terdapat kebenaran-kebenaran Tuhan.

Oleh sebab itu, sebagai orang percaya, janganlah merasa anti dengan wahyu umum yang ada. Jika kita ingin menerangi dan menggarami dunia, janganlah ragu untuk membaca setiap buku yang mengandung segala pengetahuan tentang dunia yang kita geluti. Orang politik, bacalah buku politik sebanyak mungkin. Orang teknik, bacalah buku teknik yang ada. Jangan ragu memenuhi rak buku kita dengan banyak buku sesuai bidang yang kita geluti atau kita terangi.

Memang, tidak semua buku berisikan kebenaran. Ada buku yang dapat menyesatkan kita. Karena itu, sembari menimba ilmu dari buku-buku yang kita baca, janganlah lupa pada pedoman utama kita, Al Kitab. Al Kitablah yang menjadi standar kita untuk menilai apakah buku-buku yang ktia baca sesuai dengan kebenaran Tuhan atau tidak. Selain itu, janganlah lupa untuk terus memohon hikmat-Nya agar beroleh bijaksana dalam menerima setiap isi bacaan kita.

Meminjam istilah Daoed Joesoef—Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (1978-1983)—dalam tulisannya, “Budaya Baca”, “Buku merupakan sebutan lain dari proses pemanusiaan manusia. Dengan kata lain, manusia yang membaca menjadi saksi suatu peradaban yang bernilai tinggi, yang disuguhi ketinggian tersebut dan diundang untuk menempa kepribadiannya di ketinggian itu.”

 

——–Hendy Yang Peserta Penulisan Bandung Mahasiswa ITB
 —— Diterbitkan pada  edisi no.2 tahun ke-XXIV 2010, Memulai sesuatu untuk perubahan masyarakat

Tinggalkan Balasan

SURVEI PEMILU
Isi Survei Pemilu Majalah Dia yuk!
Klik di di sini